Home / Project EU – CBM

Project EU – CBM

Nama Program : “Inclusive Indonesia: Combating Discrimination and Stigma of Woman and Children with Disabilities in Central Java” (Indonesia Inklusi: Melawan Diskriminasi dan Stigma Terhadap Perempuan dan Anak Difabel di Jawa Tengah).

Lembaga Donor : EU (European Union) dan CBM (Christoffel Blinden Mission)

Periode Program : 1 Maret 2016 – 28 Februari 2019.

Wilayah Program : Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Wonogiri, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, Kota Semarang.

Latar Belakang Program

Kurangnya data yang aktual mengenai difabilitas di Indonesia merupakan potensi bagi rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap keberadaan kaum difabel. Cara pandang masyarakat yang belum berperspektif difabel tersebut menjadi pemicu tindakan diskriminatif, pengucilan, ketidakadilan, penolakan, dan pemiskinan terhadap kaum difabel.

Kasus-kasus kekerasan yang menempatkan perempuan dan anak difabel sebagai korban sering kali tidak terselesaikan secara hukum karena adanya ketakutan akan pengucilan. Beberapa kasus serupa yang pernah terjadi dianulir disebabkan oleh kurangnya data mengenai difabilitas. Hal ini diperkuat dengan adanya jumlah selisih yang sangat signifikan antara hasil perhitungan penduduk yang dilakukan Asia Pasific Development Center on Disabilities dengan hasil perhitungan penduduk WHO (World Health Organization) pada tahun 2006. Asia Pasific Development

Center on Disabilities menyebutkan bahwa 3,2 juta penduduk Indonesia atau 1,38 persen dari penduduk Indonesia pada waktu itu adalah difabel, sedangkan WHO menyebutkan bahwa 23,8 – 35,7 juta penduduk Indonesia atau 10 – 15 persen dari penduduk Indonesia merupakan difabel. Sulitnya menemukan data difabel yang dapat dipercaya mendorong PPRBM Solo melakukan pendataan difabel di tingkat grace-roat (akar rumput), terutama dalam upaya pemenuhan hak-hak difabel.

Perempuan dan anak difabel sebagai kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap tindak kekerasan dan diskriminasi sudah saatnya mendapatkan penanganan yang lebih serius dari semua pihak. PPRBM Solo yang telah berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak difabel dan me-mainstreaming isu-isu difabel merasa memiliki tanggung jawab kemanusiaan terhadap kondisi tersebut. Program-program pemerintah dalam rangka mewujudkan Indonesia Inklusi harus dipastikan juga menyentuh hak-hak perempuan dan anak difabel. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan solusi menyeluruh dari permasalahan tersebut, penanganan harus dimulai dari dalam diri perempuan dan anak difabel sendiri sampai dengan keterlibatan dan partisipasi mereka di dalam pengambilan kebijakan pemerintah daerah yang mengakomodir hak-hak perempuan dan anak difabel. PPRBM Solo optimis mampu mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Inklusi karena langkah-langkah serupa telah menjadi bagian dari kerja-kerja PPRBM Solo dengan strategi RBM (Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat) selama ini.

Tujuan Program

Tujuan umum dari program ini adalah memberikan kontribusi kepada masyarakat Indonesia yang lebih adil dan inklusif sejalan dengan Konvensi PBB tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas atau UNCRPD (United Nations Convention on The Rights of Persons with Disabilities). Termasuk di dalamnya mendukung rencana pembangunan nasional yang didasarkan pada 5 Kerangka Kerja Biwako Plus yang memberikan prioritas pada pemenuhan hak-hak difabel yang selaras dengan HAM (Hak Asasi Manusia) melalui peningkatan kesadaran masyarakat, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah.

Secara khusus, tujuan dari pelaksanaan program ini adalah untuk menjunjung tinggi hak-hak perempuan dan anak difabel serta menerjemahkannya ke dalam kebijakan-kebijakan pemerintah dan praktek-praktek nyata inklusi di masyarakat.

Kegiatan-kegiatan Program

  1. Melakukan study base-line data.
  2. Mengembangkan business-plan dan rencana kerja strategis.
  3. Merancang dan menyusun sistem monitoring dan manajemen pengetahuan.
  4. Rencana pengembangan SDM staf program.
  5. Memberikan pelatihan untuk capacity-building staf program.
  6. Membangun dan memperkuat 14 kelompok perempuan dan anak difabel.
  7. Membuka akses bagi ketersediaan lapangan kerja.
  8. Membuka jaringan dengan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak).
  9. Membuka jaringan dengan OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) untuk akses layanan publik.
  10. Melakukan 9 program untuk penyadaran masyarakat melalui kampanye dan media informasi.
  11. Pembentukan dan peningkatan kapasitas TAD (Tim Advokasi Difabel).
  12. Penyusunan data-base/ register data difabel lengkap dengan jenis difabilitas tiap kabupaten/ kota sasaran.
  13. Melakukan sebuah penelitian tentang pemenuhan hak perempuan dan anak difabel disertai diseminasi hasil.
  14. Memfasilitasi penyatuan dan peningkatan kapasitas 3 DPO (Disable Persons Organization).
  15. Menghubunkan organisasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) dan memfasilitasi pertemuan kwartal jaringan.

Capaian Program

  1. PPRBM Solo yang memiliki kapasitas dapat secara efektif melakukan advokasi terhadap penenuhan hak perempuan dan anak difabel di daerah-daerah sasaran.
  2. Ketersediaan aksesbilitas dan layanan yang memadai bagi perempuan dan anak difabel di daerah-daerah sasaran.
  3. Peningkatan kesadaran terhadap hak-hak perempuan dan anak difabel di semua kalangan masyarakat.
  4. Terbentuknya jaringan yang kuat di tingkat kabupaten/ kota sasaran untuk melindungi hak-hak perempuan dan anak difabel.