Home / Artikel / Mengenal Busana Adaptif yang Memudahkan Penyandang Difabel

Mengenal Busana Adaptif yang Memudahkan Penyandang Difabel

Beberapa bulan belakangan, label busana Tommy Hilfiger dan toko retail Asos jadi bahan berita karena menjual busana adaptif, sebutan untuk busana yang mudah digunakan para penyandang disabilitas. Tommy Hilfiger mengeluarkan koleksi Adaptive yang memproduksi sweater, celana denim, dan celana panjang untuk difabel dewasa. Busana diciptakan untuk para pengguna kursi roda, penyandang autisme, cacat tubuh, dan penderita gangguan motorik seperti celebral palsy. Tahun lalu, Tommy Hilfiger telah mengeluarkan koleksi serupa untuk anak-anak.

Awal bulan ini Asos memroduksi jumpsuit yang mudah dipakai oleh pengguna kursi roda. Jumpsuit ini muncul dengan paduan warna cerah yang motifnya dibuat serupa teknik tie dye. Sepintas, celana terusan itu tak tampak didesain bagi difabel. Untuk memudahkan pemakaian, tim desain Asos menjahit retsleting pada bagian pinggang. Hal ini membuat jumpsuit bisa berubah fungsi sebagai jaket dan celana panjang. Desainer busana turut mempertimbangkan sistem penyimpanan barang dengan menciptakan kantung tahan air guna menaruh obat-obatan.

Asos membuat busana ini setelah mendengar keluhan Chloe B Hopkins. Tadinya Hopkins adalah seorang atlet. Sekarang ia harus duduk di kursi roda setelah mengalami kecelakaan. Hopkins mengirim surel pada tim Asos tentang kondisinya. Asos, perusahaan Inggris yang menjual busana dan make up via daring, merespons surat itu dengan mengajak Hopkins berkolaborasi dalam penciptaan busana.

Hal ini mirip dengan yang terjadi pada Tommy Hilfiger. Perusahaan retail dari Amerika Serikat itu memproduksi busana adaptif setelah mendengar masukan dari Mindy Scheier, seorang ibu dari anak laki-laki penyandang muscular dystrophy, salah satu jenis gangguan motorik. Scheier berkata bahwa penyakit tersebut belum bisa disembuhkan dan membuat kondisi motorik penyandangnya semakin parah. Dalam forum Ted Talk, Scheier menceritakan keinginan putranya saat duduk di kelas 3 SD, yaitu memakai celana jeans ke sekolah agar bisa tampil sama dengan teman-temannya.

Scheier pun memodifikasi celana jeans. Ia memasang karet pada kancing dan menggunting bagian samping celana agar anaknya mampu memasang dan melepas baju sendiri. “Saat memakai jeans, ia berangkat ke sekolah dengan percaya diri. Ia bisa pergi ke toilet sendiri dan tidak nampak sebagai orang sakit. Baju itu berhasil mempengaruhi suasana hati dan caranya menghargai diri,” kata Scheier.

Kemudian sang ibu membentuk Runway of Dreams, lembaga nirlaba yang bertujuan mengajak individu atau kelompok untuk terlibat produksi busana bagi difabel. Tommy Hilfiger adalah retail besar pertama yang menerima ajakannya. Ia punya harapan agar para pemain besar industri mode lebih serius mempertimbangkan hal ini.

Scheier sangat percaya perkataan Karen Pine, psikolog dan penulis buku Mind What You Wear: The Psychology of Fashion. Pine pernah menulis tentang konsep enclothed cognition. Konsep tersebut di antaranya menyatakan bahwa busana yang dibuat dengan bahan dan potongan yang baik bisa membuat suasana hati seseorang jadi lebih baik.

“Warna yang ditemukan di alam seperti biru langit, hijau daun, dan kuning; bisa menghindarkan dari emosi negatif. Busana berpotongan longgar diasosiasikan dengan petualangan. Motif bunga yang dianggap sebagai wujud musim semi bisa memunculkan perasaan segar dan sehat,” tulis Pine.

Warna warna cerah, potongan longgar, dan desain efisien jadi tiga hal yang diperhatikan produsen baju difabel. Scheier pernah mengungkap tiga prinsip yang dibutuhkan dalam mendesain busana adaptif yakni sistem kancing menggunakan magnet, ukuran panjang busana yang elastis, dan bukaan pada bagian punggung.

Sampai saat ini, sebagian besar ide memproduksi busana dan aksesori adaptif masih berasal dari kalangan individu yang punya kedekatan dengan difabel. Hal ini yang terjadi pada Sasha Radwan, pendiri SpecialKids Company, produsen bodysuit, pakaian dalam, dan pakaian renang untuk anak-anak. Radwan membangun bisnis dengan fokus pada eksplorasi material busana yang bisa meminimalisir jejak noda. Ia juga menciptakan busana yang bisa menampung kantung makanan. Soal aksesori, ia merancang kaus kaki yang dilengkapi tali pegangan di bagian ujung.

Perusahaan retail sepatu Zappos memproduksi sepatu bernama Billy Footweardengan retsleting yang melintang pada bagian permukaan atas sepatu. Desain ini dibuat oleh Billy, seorang pengguna kursi roda dan kawan yang bernama Darin Donaldson. Kini jenis sepatu tersedia dalam berbagai model seperti bots dan sneakers.

Pihak lain yang peduli dengan desain busana adaptif ialah insitusi pendidikan. Parson School of Design membentuk Open Style Lab , program yang melibatkan desainer, insinyur, dan terapis untuk mendesain busana adaptif. Diskusi desain dalam program tersebut melibatkan difabel. Busana yang diproduksi, disesuaikan dengan kebutuhan spesifik narasumber.

Salah satu desainer alumni program tersebut ialah Lucy Jones. Dia beberapa kali diminta untuk membuat produk busana adaptif untuk keperluan pameran di museum. Ia pernah masuk dalam daftar sosok inovatif 30 Under 30 versi Forbes. Kini Jones bekerja di lembaga pengembangan produk untuk industri retail.

Di ranah mode, label yang berinisiatif menciptakan busana adaptif adalah Bezgrainz Couture. Rancangan label busana asal Rusia ini satu nuansa dengan busana modest wear yang dijual di toko retail besar. Janina Urussowa, pendiri label, memamerkan koleksi lewat peragaan busana dengan model difabel.

Karena praktis dan mudah untuk dikenakan, busana dan aksesori adaptif juga bisa jadi pilihan busana manula. Terutama bagi para penderita atritis atau parkinson. Jenis busana untuk manula ini mulai diproduksi oleh Maura Horton dan dijual di beberapa retail seperti Macy’s dan Amazon. Chaitenya Razdan, pendiri Care + Wear, produsen busana kesehatan berkata bahwa busana kesehatan punya potensi menguntungkan.

Perlahan tapi pasti, kemunculan busana adaptif adalah salah satu cara untuk mewujudkan wacana praktisi mode yang menyebut bahwa mereka mencintai dan mendukung keberagaman.

Sumber : tirto.id

Check Also

Pusbisindo, Cara Unik Belajar Bahasa Isyarat

Bahasa isyarat menjadi salah satu jenis bahasa yang digunakan penyandang Tuli untuk berkomunikasi. Saat ini, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *