Home / Artikel / Difabel Butuh Aksesibilitas untuk Menghindari Bencana

Difabel Butuh Aksesibilitas untuk Menghindari Bencana

Penyandang disabilitas atau difabel, anak-anak, dan orang tua merupakan golongan yang rentan menjadi korban bencana alam. Terlebih, belum banyak sarana pendukung aksesibilitas bagi kaum difabel di gedung, perkantoran, dan ruang publik.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, aksesibilitas dibutuhkan contohnya tata ruang dan bangunan yang mudah dicapai oleh penyandang disabilitas. Saat ini belum banyak gedung yang memberikan aksesibilitas memadai untuk difabel.

“Difabel membutuhkan aksesibilitas, sehingga kalau ada bencana dengan mudah menyelamatkan diri,” terangnya usai membuka pelatihan penanggulangan bencana bagi disabilitas di kantor BPBD Kabupaten Wonogiri, Rabu (11/7).

Dia juga menekankan perlunya sistem peringatan dini (early warning system/EWS) yang ramah difabel. Beberapa EWS hanya mempunyai alarm suara. Hal itu sulit diketahui oleh difabel penyandang tuna rungu. “EWS selain mempunyai alarm suara, seharusnya juga ada sinyal cahaya agar terlihat oleh difabel tuna rungu,” imbuhnya.

Sementara itu, pelatihan penanggulangan bencana diikuti 30 orang penyandang disabilitas tuna daksa, tuna netra, tuna rungu-wicara, tuna grahita, dan lainnya. Pelatihan diadakan sebagai kegiatan pengurangan risiko bencana bagi para penyandang disabilitas.

Dia menekankan, penyandang disabilitas tidak perlu rendah diri, melainkan harus mempunyai semangat untuk mengembangkan diri. Pelatihan itu memberikan pengetahuan untuk meningkatkan kapabilitas difabel dalam menghadapi bencana.

“Wonogiri sebenarnya juga ada relawan difabel (Redifa) yang sering mengikuti kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana,” imbuhnya.

Ketua Unit Layanan Inklusi Disabilitas (Lidi) Jateng, Edi Supriyanto meminta para peserta memanfaatkan pelatihan itu semaksimal mungkin untuk meningkatkan pengetahuan mengurangi risiko bencana. Pasalnya, kesiapsiagaan diri merupakan modal penting dalam penyelamatan diri dari dampak resiko bencana.

Perlu diketahui, prosentase keselamatan yang diperoleh karena kesiapsiagaan diri mencapai 34,9%. Sedangkan keselamatan karena ditolong keluarga sebesar 31,9%, bantuan tetangga sebesar 28,1%, ditolong orang lewat sebanyak 2,6%, dukungan tim penyelamat sebanyak 1,7% dan lainnya 0,9%.

 

Sumber : www.suaramerdeka.com

Check Also

Mengenal Busana Adaptif yang Memudahkan Penyandang Difabel

Beberapa bulan belakangan, label busana Tommy Hilfiger dan toko retail Asos jadi bahan berita karena …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *