Home / Artikel / Kisah Perempuan Difabel Pengguna Kursi Roda

Kisah Perempuan Difabel Pengguna Kursi Roda

               Kegiatan Belajar mengajar di Paud Inklusi Tersenyum Desa Ringinlarik Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali.

Masih banyak stigma yang diberikan pada orang-orang difabel, terutama difabel perempuan yang dianggap tidak bisa mandiri, lemah, tidak mampu berkarnya dan lain sebagainya. Tetapi pada kenyataannya Titik Isnani asal Desa Ringinlarik Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap difabel perempuan. Ketua kelompok difabel Tunas Harapan Kecamatan Musuk yang sekaligus Pendiri Paud Inklusi Tersenyum sejak usia bayi tidak bisa berjalan atau mengalami kelumpuhan karena jatuh dari gendongan yang mengakibatkan badannya panas dan berdampak pada kelumpuhan kaki. Sampai usia 40 tahun sekarang ini, perempuan yang akrab dipanggil Isnani beraktivitas di atas kursi roda.

Kehidupan Isnani tergolong cukup tragis, bagaimana tidak? Titik Isnani tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah, meski ayahnya seorang guru. Dia tidak pernah mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan seperti saudara-saudara yang lain. Kehidupan masa kecil hanya dihabiskan di rumah dengan interaksi sosial yang terbatas, bersama kedua orangtuanya dan 3 adiknya dan hanya sesekali saudara lain yang datang, selebihnya melakukan aktifitas domestik.

Dia tidak mengenal dunia luar, karena jarang bergaul dengan rekan-rekan sebayanya. Orangtuanya memang tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar mengenal dan berbaur dengan teman sebayanya. Bisa dibayangkan betapa sepinya kehidupan seorang perempuan difabel satu ini. Keseharian hatinya dipenuhi oleh rasa sunyi, gundah, sedih dan angan-angan yang tak pernah terwujud. Keseharian hanya mendengarkan petuah-petuah tanpa arti bagi kehidupannya. Dia tidak butuh sekedar petuah tapi kesempatan. Kesempatan unuk mengenal dunia, mengenal lingkungan sekaligus mengenal tantangan hidup.

Titik Isnani belajar membaca dan menulis dengan mencuri-curi kesempatan ketika ayahnya menerima les di rumah, dia mendengarkan di balik jendela rumahnya. Dari situ dia belajar untuk bisa menulis dan membaca. Menjelang usia remaja dia sadar betapa pentingnya pendidikan dan bersosialisasi dengan masyarakat bagi perkembangan dirinya, sayang semua tidak pernah didapatkan. Bahkan ketika berkeinginan untuk bersosialisasi dan beraktifitas bersama sesama difabelpun pihak orangtua tetap tidak mngijinkan. Semakin pilu hatinya. Namun tekad justru makin membara, dia sudah bosan dengan kehidupan yang monoton. Dari hari ke hari hanya dihabiskan di rumah. Dengan berjalannya waktu ketemu bertemulah dia dengan kawan-kawan PPRBM yang setia datang dan mengajak mengobrol. Disitulah dia punya kesempatan mengutarakan segala kerisuan hati serta harapan-harapannya. Lalu oleh teman-teman PPRBM dia didorong membentuk sebuah kelompok difabel Tunas Harapan yang anggotanya 5 orang dan diketuai oleh Titik Isnani dengan sekretariatannya di rumahnya sendiri.

Aktifitas yang dilakukan dirumah, lambat laun juga merubah cara pandang orangtua dan keluarga, bahwa sosok Isnani mampu berbuat sesuatu bagi masyarakat. Dan secara perlahan dukungan keluargapun mulai muncul, Isnani makin bersemangat. Kelompok yang diinisiasipun makin berkembang. Untuk merespon keluhan-keluhan mengenai banyak anak difabel yang tidak sekolah dikarenakan kalau sekolah ke SLB jaraknya jauh sementara kondisi ekonomi keluarga akan sangat miskin, Titik Isnani mendirikan sekolah Paud Inklusi agar supaya anak-anak difabel bisa belajar bersama anak non difabel di sekolah yang ia dirikan. Akhirnya dibantu oleh orang tua difabel dan kawan-kawan yang peduli difabel mereka berhasil mendirikan PAUD INKLUSI yang sampai saat ini masih berjalan dan sedang dalam proses perijinan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Boyolali.

 

Purwanti

[Community Organizer Kab. Wonogiri]

Check Also

4 Teknologi Ini Bisa Membantu Para Difabel

Hadirnya teknologi menjadikan aktivitas keseharian menjadi lebih mudah, tak terkecuali difabel. Tidak hanya membantu manusia yang memiliki fisik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *