Home / Artikel / Siapkan Pejuang-pejuang, PPRBM Solo Inisiasi Pertemuan Kelompok Perempuan dan Anak Difabel

Siapkan Pejuang-pejuang, PPRBM Solo Inisiasi Pertemuan Kelompok Perempuan dan Anak Difabel

Perwakilan dari tiga belas kelompok dan anak difabel dari enam kabupaten/ kota di Jawa Tengah hadir dalam Sharing dan Mentoring SHG (Self Help Group) yang diselenggarakan oleh PPRBM (Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat) Solo di Wisma Senode Salatiga. Selama dua hari, 17 dan 18 Februari 2018, perwakilan kelompok perempuan dan anak difabel saling berbagi pengalaman mengenai keberlangsungan kelompok mereka.

Wening Swasono, Staf Monitoring dan Evaluasi PPRBM Solo, dalam sambutannya mengatakan, “Harapannya setelah pertemuan ini, teman-teman akan semakin bersemangat dan semakin mandiri dalam mengelola kelompok ataupun organisasi difabel. Bagaimana Bapak/ Ibu semua dapat menjadi tokoh-tokoh difabel di wilayahnya masing-masing. Rasa kekeluargaan ini yang akan kita dorong sehingga ke depannya teman-teman difabel dapat bersatu dalam memperjuangkan hak-haknya.”.

Pada acara tersebut, perwakilan tiga belas kelompok permpuan dan anak difabel difasilitasi untuk saling merefleksikan kekuatan dan kelemahan kelompok serta mengidentifikasikan peluang dan ancaman dari luar dengan metode Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Nuryadin Edi Purnama, salah satu fasilitator yang memandu acara tersebut menguraikan, “Kita coba melihat kelompok kita ini sebagai rumah. Ada beberapa karakter yang berbeda di dalamnya. Karakter mana yang lebih dominan ada di kelompok; tidak mau dan tidak mampu, mau tetapi tidak mampu, mampu tetapi tidak mau, atau mau dan mampu? Tugas kita ke depan adalah membentuk karakter-karakter individu yang ideal di dalam kelompok. Kemudian bagaimana memaksimalkan  kekuatan dan menangkap peluang untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang sudah ada.”.

Lebih hlanjut, ia memaparkan bahwa berdasarkan laporan para CO (Community Organizer) yang selama ini bertugas mendampingi kelompok perempuan dan anahk difabel, banyak keuntungan yang diperoleh oleh anggota kelompok setelah mereka berkelompok dan terlibat di dalam kegiatan kelompok.

Ia menambahkan, “Kekuatan-kekuatan yang sudah ada di dalam kelompok ini harus kita kelola. Nantinya, kekuatan inilah yang akan menghidupi kelompok sehingga tidak membutuhkan pendampingan CO lagi.”.

Senada dengan hal tersebut, Direktur PPRBM Solo, Sunarman, yang menyempatkan diri hadir di sela-sela kesibukannya menyampaikan, “Dalam hal ini PPRBM hanya mendorong teman-teman untuk memperjuangkan perubahan terhadap kondisi diskriminatif di lingkungannya. Saya berharap ketika PPRBM sudah tidak mendampingi kelompok lagi, teman-teman dapat terus berjuang dan menghargai proses yang sudah berjalan.”, tandasnya. (Agatha)

Check Also

Mengenal Busana Adaptif yang Memudahkan Penyandang Difabel

Beberapa bulan belakangan, label busana Tommy Hilfiger dan toko retail Asos jadi bahan berita karena …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *