Home / Berita / Sky Bridge Tak Ramah Difabel, Pengguna Kursi Roda Sulit Akses Ruang Tunggu

Sky Bridge Tak Ramah Difabel, Pengguna Kursi Roda Sulit Akses Ruang Tunggu

http://images.solopos.com/2016/11/sky-bridge.jpg

Fasilitas umum jembatan layang (sky bridge) penghubung Terminal Tipe A Tirtonadi-Stasiun Solo Balapan dinilai belum ramah difabel.

Koordinator komunitas difabel Self Health Group (SHG) Solo, Sugian Noor, menceritakan pengurus SHG Solo bersama perwakilan Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Solo telah menjajal fasilitas sky brigde belum lama ini.

Dia menyesalkan fasilitas sky bridge sisi terminal yang ternyata belum ramah difabel. Kalangan difabel yang menggunakan kursi roda kesulitan menuju ruang tunggu terminal setelah keluar sky bridge.

“Fasilitas sky bridge sisi terminal belum ramah difabel. Kami kesulitan menuju ruang tunggu terminal setelah keluar dari sky bridge. Kami yang menggunakan kursi roda tidak bisa melewati tangga di lantai atas terminal menuju ruang tunggu. Fasilitas ramp yang tersedia di lantai atas terminal juga terlalu curam. Itu hanya bisa dilalui kendaraan bermotor,” kata Sugian Noor saat ditemui Solopos.com di CFD Jl. Slamet Riyadi, Minggu (16/7/2017).

Sugian Noor berharap fasilitas sky bridge sisi terminal bisa dibangun selengkap di sisi stasiun. Dia menyebut kaum difabel dari SHG tidak terlalu kesulitan mengakses fasilitas sky bridge sisi stasiun.

Untuk naik atau menuju lantai sky bridge sisi Stasiun Solo Balapan, kaum difabel bisa memanfaatkan lift. Sugian Noor menerangkan indikator fasilitas infrastruktur bisa dikatakan ramah difabel jika fasilitas tersebut mampu dimanfaatkan kaum difabel secara mandiri.

“Kenapa harus ada aksesibilitas pada fasilitas umum? Agar kaum difabel tidak selalu bergantung kepada orang lain saat menggunakannya. Kami kan juga tidak mau merepotkan orang lain. Aksesibilitas fasilitas umum sebenarnya bukan saja membantu kaum difabel, tapi juga warga lansia, wanita, dan anak-anak. Seperti orang pada umumnya, kami juga layanan transportasi umum. Untuk bisa menjangkau layanan itu, kami butuh penyediaan fasilitas infrastruktur yang ramah difabel,” jelas Sugian Noor.

Sugian Noor mengakui butuh modal untuk menyediakan fasilitas yang ramah difabel. Dia berharap pemerintah bisa mengupayakan penyediaan fasilitas dengan standar layanan tersebut.

SHG mengapresiasi pemerintah melengkapi Terminal Tipe A Tirtonadi dengan jalur khusus bagi penyandang tunanetra. Jalur berupa garis berwarna kuning menyala selebar petak lantai 40 cm tersebut bermanfaat menuntun penyandang tunanetra ke ruang-ruang pokok terminal.

“Tidak semua kaum difabel punya kendaraan pribadi dan hanya menempuh perjalanan jarak pendek. Kami juga membutuhkan layanan transportasi umum. Kami sangat senang dengan adanya layanan bus BST. Halte bus BST kini juga banyak yang ramah difabel karena dilengkapi ramp cukup landai. Masalahnya sekarang kami masih kesulitan jika masuk bus BST besar. Lantai bus lebih tinggi dari lantai halte,” ujar Sugian Noor.

Saat dimintai tanggapan, Koordinator Tipe A Tirtonadi, Eko Agus Susanto, meyakini pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melengkapi fasikitas umum sky brigde dengan sarana penunjang yang mudah diakses kaum difabel. Dia telah mengusulkan agar Kemenhub membangun eskalator ramah difabel maupun lift saat mulai membangun lahan komersial di lantai atas Terminal Tirtonadi. Eko berharap sarana tersebut bisa disediakan pada 2018 mendatang.

 

Sumber : www.solopos.com

Check Also

Karya Penyandang Difabel Ikut Tampil di JMFW 2018

Ajang Fashion Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) 2018 kembali digelar. Perhelatan acara fashion ini akan digelar mulai hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *