Home / Berita / Uji Coba “Guiding Block”: Cara Efektif Mengedukasi Masyarakat

Uji Coba “Guiding Block”: Cara Efektif Mengedukasi Masyarakat

Sabtu, 31 Desember 2016, PPRBM Solo bersama Forum Komunikasi Tuna Netra Surakarta dan Forum Kota mengadakan uji coba “guiding block” di kawasan Singosaren Solo.

Di penghujung tahun 2016, para pemakai jalan dan pengunjung toko di kawasan Singosaren Solo menjumpai suatu keadaan yang tidak biasa. Bukan hanya itu, para pemilik toko dan petugas parkir juga menunjukkan ekspresi yang serupa. Pasalnya, hari itu mereka melihat langsung bagaimana sekelompok difabel netra berjalan di atas “guiding block” yang selama ini belum pernah difungsikan sebagaimana layaknya. Sontak saja, kejadian tersebut mengundang berbagai ekspresi dari masyarakat, dari ekspresi heran biasa hingga marah.

Ekspresi marah ditunjukkan oleh pemilik toko yang terpaksa “digusur” karena posisi/ letak tokonya menghalangi jalur difabel netra.

“Kalau Anda membuka toko Anda di sini, bagaimana mereka bisa lewat? Jalur ini (guiding block)” dibuat untuk jalan mereka, bukan untuk tempat Anda berjualan…”, kata Pak Mayor Hastanto dari Republik Aeng-aeng yang ikut mengawal rombongan kepada salah satu pemilik toko yang merasa terganggu dengan uji coba tersebut.

Beberapa petugas parkir yang dilalui juga menunjukkan ekspresi tidak senang karena hari itu mereka harus menyingkirkan beberapa sepeda motor yang menghalangi jalur (guiding block). Akan tetapi, dari berbagai respon negatif tersebut, banyak pula respon positif yang ditunjukkan oleh masyarakat sekitar. Mereka menyadari bahwa fasilitas umum sudah seharusnya dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk para difabel.

Ketidaktahuan masyarakat mengenai funsi “guiding block” harus disikapi secara bijaksana. Pasalnya, sebagian besar masyarakat kita masih sangat awam dengan isu-isu difabel. Kurangnya edukasi masyarakat dan sosialisasi terhadap aksesbilitas fasilitas umum di kalangan difabel sendiri dapat menjadi penghambat optimalnya fungsi “guiding block”.

“Keberadaan ‘guiding block’ di kawasan Singosaren, seperti halnya keberadaan ‘guiding block’ di kawasan lain, belum pernah tersosialisasikan kepada teman-teman netra…”, kata salah seorang difabel netra. Hal ini, menurutnya, juga menjadi salah satu faktor penyebab kurang maksimalnya fungsi “guiding block” di Kota Surakarta.

“Kami sangat berterima kasih atas usaha Pemerintah Kota dalam menyediakan aksesbilitas bagi teman-teman netra. Akan lebih baik lagi apabila kami dilibatkan dalam proses pembuatannya. Sayang sekali jika akses yang telah jadi ini tidak tepat guna. Seandainya kami dilibatkan dari awal, dapat mengurangi resiko kesalahan. Bagaimana pun, yang paling mengerti kebutuhan kami, ya kami sendiri…”, tambahnya ketika dimintai penilaian tentang akses “guiding block” yang telah dibuat. Menurutnya, “guiding block” tersebut kurang menonjol/ timbul sehingga ada beberapa bagian yang terasa hilang atau terputus.

“Kami berharap melalui uji coba ini, seluruh elemen masyarakat dapat bekerja sama dalam memaksimalkan fungsi ‘guiding block’,” tutupnya.

Check Also

Karya Penyandang Difabel Ikut Tampil di JMFW 2018

Ajang Fashion Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) 2018 kembali digelar. Perhelatan acara fashion ini akan digelar mulai hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *